Enam Dasawarsa Mengarungi Relasi Pasang Surut

Foto Sukarno di tengah wartawan Jepang sebagaimana tercantum dalam buku “G30S dan Asia dalam Bayang-bayang Perang Dingin”

Telah enam dasarwarsa lamanya Indonesia dan Jepang menjalin hubungan diplomatik, atau dalam istilah yang lebih kasual, hubungan persahabatan. Sepanjang rentang waktu tersebut banyak hal terjadi. Baik maupun buruk.

Namun yang pasti, hal baik jumlah- nya jauh melebihi hal buruk ter- masuk ketika baru-baru ini konglo- merasi pengelola nansial dan aset terbesar terbesar di Jepang, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG,) mengumumkan rencana pembelian saham Danamon senilai lebih dari US$6 miliar.

Sebelum akhir 2017, MUFG resmi mengumumkan niat pengambilalihan 73,8% saham Danamon, bank No. 5 terbesar di In- donesia. Semua bakal dilakukan bertahap. Pertama menguasai 19,9% saham di ta- ngan Temasek Holdings Singapura, senilai US$1,17 miliar. Kemudian akan dilanjutkan dengan pembelian 53,9% saham sisanya da- lam dua langkah yang dijadwalkan tuntas tahun ini juga. Ekspansi tersebut membuktikan bahwa Jepang akan terus menengok Asia Teng- gara, Indonesia khususnya, guna melayani kebutuhan konsumsi dan investasi kelas menengah.

Bekerja, berniaga
Di luar sejarah arus utama, Indonesia dan Jepang sejatinya telah lama menjalin relasi. Lebih dari seabad tahun lalu, sebagai- mana dipaparkan dalam buku berjudul eks- tra panjang: “Indonesia di Mata Masyarakat Jepang di Hindia Belanda 100 tahun lalu Da- lam Kartu Pos Bergambar Foto” karya Aoki Sumio, orang Jepang telah datang ke negara kepulauan terbesar di dunia ini untuk beker- ja atau berniaga.

Tetapi, mulai 1942, relasi tersebut mem- buruk ketika Jepang datang sebagai kekuat- an imperialistik dalam Perang Asia-Pasi k. Meski demikian, saat ditaklukkan Sekutu, diketahui ada sekitar 3.000 tentara Jepang yang memilih tinggal dan berperang bersa- ma tentara Indonesia melawan Belanda yang berupaya kembali. Banyak di antaranya di belakang hari diakui sebagai pahlawan. Bagaimanapun, hubungan diplomatik Indonesia-Jepang baru dirintis pada perte- ngahan 1950-an, antara lain, melalui Kese- pakatan San Fransisco. Tali diplomatik ke- mudian resmi diikat pada 1958.

Setahun kemudian, pada 1959, Nemoto Naoko mengisi acara di Hotel Imperial, Tok- yo, guna menyambut tamu negara. Dalam kesempatan itulah, ia pertama kali bertemu Presiden Sukarno, dan kemudian menjalin hubungan dan akhirnya menjadi istrinya pada 1962 dengan nama baru, Ratna Sari Dewi atau Dewi Sukarno. Pada 1967 lahir Kartika Sari Dewi yang juga dikenal sebagai Karina Sukarno. Antara 1960-1965 hubungan Indone- sia-Jepang terutama ditandai tersedianya dana hibah tahunan dari Tokyo. Baru mulai 1966 selain hibah juga terdapat pinjaman lunak dan bantuan teknis.

Selain itu, disepakati pula Treaty of Amity and Commerce pada 1961 dan per- janjian lalu lintas udara pada 1962.

Dasawarsa 1960-an di Tanah Air, juga diwarnai “masa panas” secara sosial-politik serta ekonomi. In asi melambung, namun Irian Barat (kini Papua) diakui kalangan internasional sebagai bagian dari Indone- sia pada 1963. Di lain pihak Jepang mulai merasakan era keemasan ekonomi, bahkan sempat menjadi tuan rumah Olimpiade pada 1964 yang tidak diikuti Indonesia lantar- an terkena skorsing International Olympic Committee (IOC).

Pada 1965 Indonesia dilanda guncang- an berupa percobaan kudeta Partai Komunis Indonesia (PKI). Para wartawan Jepang, me- nurut buku “G30S dan Asia dalam Bayang- -bayang Perang Dingin” dengan Kurasawa Aiko dan Matsumura Toshio sebagai editor, relatif unggul dalam pemberitaan peristiwa ini dibanding para wartawan Barat. Hal ini karena mereka, terutama dari media besar seperti Kyodo, NHK, Yomiuri Shimbun dan Mainichi Shimbun, masih bisa meliput lang- sung perkembangan peristiwa dan tak diusir pemerintah.

Akibat pemberontakan tersebut, Sukar- no pada 1967 dinyatakan kehilangan man- datnya sebagai presiden untuk kemudian di- gantikan Soeharto sebagai pejabat presiden hingga pemilu berlangsung. Mulai 1968, ia menjadi tahanan rumah di Wisma Yasso dan akhirnya tutup usia dalam keadaan sakit pada 1970. Wisma Yasso kini menjadi Mu- seum Satria Mandala dan kabarnya sebenar- nya merupakan rumah milik Dewi Sukarno dan dinamai sesuai nama saudara lelakinya yang telah meninggal dunia.

Pendirian pabrik
Masa pasang ekonomi bagi Jepang di Indonesia berlangsung sejak awal 1970-an, saat Soeharto mulai menjadi presiden de - nitif, ketika beberapa perusahaan sibuk ber- kiprah di Indonesia terutama di sektor elek- tronika dan otomotif.

Toyota Astra Motor, misalnya mulai ber- operasi pada 1971 meski semula hanya se- bagai importir dan distributor mobil-mobil Toyota. Yang pasti, hal ini merupakan awal dominasi Jepang atas pasar otomotif Indo- nesia hingga kini. Sementara itu, ekspatriat Jepang dengan korporasi raksasa di bela- kangannya juga ramai hadir.

Pada 1974 dominasi ekonomi Jepang bereskalasi pada peristiwa Malari (Malape- taka 15 Januari) yang juga merupakan pro- tes atas banjirnya investasi asing, korupsi dan kenaikan harga bahan pokok. Aksi mas- sa yang “digagas” para mahasiswa ini meng- gugat pelemahan pilar-pilar ekonomi Indo- nesia. Peristiwanya sendiri berlangsung saat Perdana Menteri Jepang kala itu, Tanaka Kakuei, melakukan kunjungan kenegaraan. Setelah protes berujung kerusuhan yang sempat mengusik kemitraan Indonesia- -Jepang itu, pemerintah mulai menempuh reformasi di bidang ekonomi terutama un- tuk memastikan bahwa dalam setiap proyek investasi asing, kepentingan pengusaha lo- kal tidak terabaikan.

Jepang di lain pihak juga bersikap res- ponsif karena pada 1977 di Manila, Filipina, memperkenalkan Doktrin Fukuda. Doktrin tersebut menyatakan bahwa di Asia Teng- gara, Jepang bertekad “menjadi negara yang mengikatkan diri pada perdamaian, tidak akan pernah menjadi kekuatan militer.” Selain itu, negara tersebut juga akan “membangun hubungan berdasarkan saling pengertian da- lam bidang-bidang yang luas” serta “beker- jasama secara positif dengan negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) sebagai mitra sederajat.”

Mobil Nasional
Setelah itu, mulai 1980-an, investasi Jepang di Indonesia melesat, bahkan setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri usai berkuasa selama 32 tahun pada 1998 menyusul tuntutan reformasi dan dimulainya abad baru.

Satu dari sedikit “glitch” menyangkut bidang ekonomi di pertengahan 1990-an adalah apa yang disebut proyek Mobil Nasional (Mobnas). Proyek tersebut di mata Jepang—dan Amerika Serikat—merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan World Trade Organization (WTO) terutama karena preferensi pada produsen mobil Korea Selat- an. Indonesia yang kala itu masih di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, mengang- gap Mobnas adalah upaya sah membangun kemandirian di bidang otomotif, mengingat selama ini produsen mobil yang puluhan ta- hun menguasai pasar Indonesia tidak per- nah melakukan alih teknologi. Jepang ke- mudian mengajukan gugatan resmi kepada Indonesia melalui WTO.

Waktu terus melaju dan rezim berganti. Pada 2012 ada 1.200-1.300 perusahaan Jepang di Indonesia dan sektor-sektor yang secara tradisional menjadi sasaran investasi seperti elektronik, otomotif, energi dan per- tambangan telah berkembang. Belakangan investasi dan relasi niaga le- bih terdiversi kasi sehingga juga termasuk sektor ritel, restoran, fesyen dan garment, jaringan department store, toko buku dan lainnya.

Budaya pop Jepang pun deras menerpa Indonesia, lengkap dengan kegandrungan kaum muda mempelajari Bahasa Jepang, sementara sejumlah produk budaya khas Indonesia seperti batik dan gamelan juga diapresiasi luas di Jepang. Fenomena seru- pa berlangsung di bidang pariwisata dengan bertambahnya warga Indonesia yang melan- cong ke Jepang dan demikian pula sebalik- nya.

Hingga kini Jepang tetap merupakan salah satu penyedia bantuan terbesar bagi Indonesia melalui Japan International Coo- peration Agency (JICA) sementara sejumlah proyek kerjasama yang saling menguntung kini juga tengah berjalan—atau diproyeksi- kan segera berjalan—termasuk proyek kere- ta semi cepat Surabaya-Jakarta yang menyi- ta pemberitaan luas itu.

Ke depan, hubungan kedua negara diya- kini akan terus baik. Kalaupun ada kerikil, maka itu lebih merupakan dinamika yang biasa terjadi dalam setiap interaksi, bahkan antara dua negara yang bermitra.•

TONGGAK-TONGGAK PENTING DI PERJALANAN INDONESIA DAN JEPANG

Tentara Jepang masuk ke Indonesia melalui Tarakan, Kalimantan bagian utara. Jawa diduduki sekitar dua bulan kemudian.
Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Jepang mengakhiri masa pendudukan- nya.
Indonesia dan Jepang membuka hubungan diplomatik, didahului pertemuan di San Fransisco, Amerika Serikat, 20 Januari 1958 yang membahas perjanjian damai dan pampasan perang.
Presiden Sukarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang. Di sela-sela kunjungan, ia untuk pertama kali bertemu Nemoto Naoko, yang kemudian dikenal sebagai Dewi Sukarno.
Jepang menyediakan hibah secara berkala bagi Indonesia.
Indonesia dan Jepang menyepakati Treaty of Amity and Commerce.
Presiden Sukarno memperistri Nemoto Naoko dan memberinya nama baru, Ratna Sari Dewi atau Dewi Sukarno. Indonesia dan Jepang menjalin perjanjian lalulintas udara.
Jepang di tengah masa keemasan secara ekonomi menjadi tuan rumah Olimpiade Tokyo di mana Indonesia tidak turut serta.
Indonesia diguncang pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Wartawan Jepang termasuk kelompok wartawan asing yang bisa melaporkan langsung perkembangan terakhir dari peristiwa ini karena tidak seperti wartawan media Barat, mereka tidak diminta meninggalkan Indonesia.
Mandat Sukarno sebagai presiden dicabut karena diduga mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan PKI. Soeharto menjadi pejabat presiden.
Kartika Sari Dewi, dikenal dengan panggilan Karina Sukarno, lahir dari pernikahan Sukarno dengan Dewi.
Sukarno mulai menjadi tahanan rumah.
Sukarno wafat 21 Juni dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Di pertengahan dasawarsa 1970-an Jepang mengalami masalah terkait krisis minyak justru ketika kiprah industrialisasinya tengah tumbuh pesat.
Pada 5 Juli Indonesia menyelenggarakan pemilu yang menjadikan Soeharto presiden de nitif. Setelah itu ada 5 pemilu lagi yang melanggengkan kekuasaan Soeharto dan rezim Orde Baru selama 32 tahun berturut-turut.
Peristiwa Malari pecah pada 5 Januari di tengah kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Jepang Tanaka Kakuei.
Jepang memperkenalkan Doktrin Fukuda di Manila, Filipina, demi kerjasama lebih baik dengan negara-negara ASEAN termasuk Indonesia.
Jepang melanjutkan kerjasama dengan Indonesia di berbagai sektor ekonomi. Pertumbuhan ekenomi negara tersebut terus melambung didorong konsumsi dalam negeri. Sedemikian kuat perekonomian Jepang hingga perjanjian The Plaza Accord perlu digelar 22 September 1985 antara Perancis, Jerman Barat, Jepang, Amerika Serikat, dan Britania Raya untuk mendepresiasi dolar AS terhadap yen Jepang dan mark Jerman, melalui intervensi di pasar-pasar mata uang.
Melalui Inpres No. 2/1996 Presiden Soeharto mendorong kelahiran proyek mobil nasional yang kemudian dilimpahkan pada putranya Tommy Soeharto. Kebijakan yang menghasilkan mobil yang diimpor langsung dari Korea Selatan secara bebas pajak ini digugat Jepang dan AS ke World Trade Organization (WTO).
Atas desakan berbagai pihak, termasuk International Monetary Fund (IMF), Presiden Soeharto di tengah himpitan krisis ekonomi dan politik membatalkan Inpres No. 2/1996
Presiden Soeharto mengundurkan diri setelah gerakan reformasi melanda seluruh Indonesia.
Gempa besar dan tsunami melanda wilayah Tohoku dengan kekuatan 7 berdasarkan skala intensitas seismik Badan Meteorologi Jepang. Kelompok teater mahasiswa Indonesia, En-Juku, menyemangati rakyat Jepang lewat lagu ‘Sakura-Yo.’
Menyusul pergantian pemeritahan di Indonesia, investasi Jepang kembali mengalir deras. Pada 2012 sedikitnya ada 1.200-1.300 perusahaan Jepang beroperasi di Indonesia. Bidang kerjasama juga merambah keluar sektor tradisional seperti manufaktur dan otomotif.